Saturday, November 30, 2013

Sepeda Ontel

Sepeda Ontel

Pagi itu suasana begitu dingin , embun yang halus menempel didedaunan , sarang laba – labapun tampak begitu jelas jaring-jaringnya karena embun yang menempel disarangnya, burung – burung mulai berkicau layaknya seperti paduan suara, matahari perlahan mulai menampakan sinarnya dengan gagah berani tanpa takut .
            Seorang pemuda yang bernama Jho telah bersiap diri dengan sepeda ontelnya untuk bergegas berangkat sekolah, tidak lupa Jho menghampiri tiga sahabat nya Resti, Natan, dan Anto. Seperti biasa mereka berangkat bersama – sama pergi kesekolah dengan naik sepeda ontel yang sudah tua. Jho adalah anak laki-laki tunggal didalam keluarganya. Waktu Jho kelas satu dan dua, Jho masih diantar oleh orangtuanya kesekolah dengan naik motor tua dengan suara mesin yang keras dan mengeluarkan asap dari kenalpot yang banyak. Keluarga Jho adalah keluarga yang pas-passan dalam hal ekonomi. Setelah kelas tiga SD Jho disuruh oleh orang tuanya berangkat kesekolah dengan naik sepeda sendiri  ,dengan sepeda otel tua. Jarak antara rumahnya lumayan jauh , jarak yang harus ditempuh sepuluh kilo meter dari rumah menuju sekolah, tapi Jho tidak pernah mengeluh,meskipun banyak diantara teman-teman sekolahnya yang diantar ketika berangkat sekolah,tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk sekolah demi menimba ilmu. Sekarang Jho duduk dibangku kelas dua SMP.
Suatu ketika Jho berangkat kesekolah sendiri karena ketiga sahabat nya diantar oleh orangtuanya. Dalam perjalanan Jho hanya merenung memikirkan masa depannya, Jho mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang manajemen yang handal yang bekerja diperusahaan ternama dan terbesar.



            Dalam perjalanan nya menuju sekolah tiba-tiba sepeda tua Jho rusak, Jho segera turun dari sepeda dan membenarkannya. Jho memeriksa sepedanya apa yang menyebabkan sepedanya tidak bisa digerakkan, dengan rasa kawatir karena jam sudah hampir menunjukan pukul 07:00 WIB,  tapi untungnya jarak Jho dengan sekolahnya sudah tidak terlalu jauh, dengan segera Jho meriksa bagian demi bagian sepedanya mulai dari roda depan, roda belakang, rem depan rem belakang dan rantai sepedanya waktu terus berputar akhirnya Jho tau apa yang menjadi masalah sepedanya tidak mau bergerak, ternyata rantai antara sebegai penggerak roda belakang lepas dari gir nya Jho dengan cekatan membenarkannya, dengan tergesa – gesa akhirnya sepeda pun selesai dibenarkan dan Jho segera mengayuh sepedanya dengan cepat menuju sekolah .
 Setelah sesampainya disekolah Jho segera memarkirnya dibarisan sepeda – sepeda lainnya disekolah. Jho bergegas menuju kelas, banyak teman-teman Jho yang menyapa Jho dengan ramah. Disekolah Jho terkenal anak yang ramah dan pandai berbaur dengan teman-temannya disekolah.
            Pukul 07:00 WIB bel tanda masuk sekolah berbunyi bertanda pelajaran segera dimulai semua murid dalam kelas segera duduk ditempatnya masing-masing dan menyiapkan buku pelajaran. Pelajaran terus berjalan hingga tiba waktu jam terakhir di jam terakhir tersebut seperti biasa murid-murid disekolah mengeluarkan meja dan kursi kelapangan karena hari ini adalah hari sabtu dimana pada jam terakhir dikhususkan sebagai jam kebersihan kelas, murid-murid dengan semangat membersihkan kelas begitu pun dengan Jho dengan semangat Jho membersihkan kelasnya.
            Setelah beberapa semua kelas sudah beres rapi dan bersih ,murid-muridpun beristirahat sambil menunggu jam pulang. Tapi pada waktu itu wali kelas Jho memberi tahukan kepada teman-teman Jho bahwa sudah boleh pulang kerumah, dengan segera Jho mengambil tas nya dan segera menuju di parkiran sepeda, tapi banyak teman-teman Jho masih dikelas dan masih bersanda gurau. Jho pun segera cepat-cepat pulang karena, dirumah ada pekerjaan yang menanti, dimana Jho harus memberi makanan hewan peliharaannya. Jho mempunyai banyak itik yang dipeliharanya dan empat ekor kambing. Waktu itu Jho lupa memberi makan hewan peliharaannya, sehingga Jho ingin cepat-cepat pulang .
            Pada saat menuntun sepedanya menuju pintu gerbang , dari jauh teriakkan kepala sekolah yang keras dan lantang memanggil nama Jho. Jho……, kamu mau kemana?kemari kamu! Kata pak kepala sekolah. Segera Jho mendatangi pak kepala sekolah .
 Mau pulang pak , kata Jho. Siapa yang menyuruhmu pulang, bel tanda pulang sekolah belum berbunyi kenapa kamu sudah mau pulang.? Kamu ingin kabur ya.? Tanya pak kepala sekolah .

Enggak pak , tadi kata ibu wali katanya sudah boleh pulang pak. Jawab Jho.
Tidak usah banyak alasan , saya kan belum memberi perintah untuk pulang.!! Sekarang juga kamu balikan sepeda mu ditengah-tengah lapangan , sekarang juga.!!
Tapi pak , kata ibu wali kelas tadi sudah boleh pulang. Bantah Jho. Tidak usah banyak alasan , sekarang juga balik sepedamu ditengah-tengah lapangan dan putar rodanya .!!
Segera Jho melakukan apa yang diperintahkan oleh bapak kepala sekolah . Banyak teman-teman Jho yang melihat dan menertawakan Jho, dengan menanggung malu Jho hanya tertunduk diam mendengarkan ejekkan dari teman-temanya.
Sekarang kamu sudah boleh pulang, dan perlu diingat jika belum ada pengumuman untuk diperbolehkan pulang sekolah, jangan pulang terlebih dahulu.!  mengerti.? Kata pak kepala sekolah .
Mengerti pak.! Jawab Jho .
            Jho segera pulang menuju rumah . Dalam perjalannya Jho melihat sekelompok murid sekolah lain, yang tak asing bagi Jho. Segera sekelompok murid dari sekolah itu menghampiri Jho. Sekelompok anak murid dari sekolah lain itu sering mencari masalah dengan Jho. Jho pun menghiraukannya. Hey…., banci , berhenti kalok berani.!! teriak anak-anak itu, Jho masih menghiraukannya. Tanpa disadari ada sebuah benda yang menghantam sepedanya, sebuah batu yang dilempar sekelompok anak tadi, Jho pun dengan sabar membiarkannya. Dari jauh masih terdengar teriakkan dari sekelompok anak yang mencari masalah dengan Jho. Hey ...,pengecut.!! Dasar banci kau Jho.!! , Jho pun membiarkannya dan mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumah. Sesampainya dirumah Jho segera mengerjakan pekerjaannya yang sudah menantinya. Tanpa mengeluh Jho mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan penuh semangat dan selalu membantu kedua orangnya kesawah setiap sore dan tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang murid, Jho selalu belajar disetiap ada waktu luang demi mencapai sebuah prestasi dan cita-cita yang Jho impi-impikan.



                                                                        ***
Sepuluh tahun sudah berlalu, perjuangan demi perjuangan, kegagalan demi kegagalan, Jho jalani dengan setia dan pantang menyerah dan tetap semangat. Cita-cita Jho  akhirnya tercapai untuk menjadi seorang manajemen yang handal dan bekerja diperusahaan ternama dan terbesar dengan segala usaha dan perjuangan yang tanpa menyerah dan tidak putus asa. Akhirnya hidup Jho bahagia dengan kedua orang tuanya, dan Jho masih menyimpan sepedanya sebagai kenang – kenangan perjuangannya dalam menempuh suatu impian yang dicita-citakannya dan bahwa setiap impian akan terwujud jika ada kemauan yang kuat dan berani untuk mencapainya walaupun banyak kegagalan dan resiko tapi asalkan tidak pernah menyerah dan tetap semangat semua bisa digapai seberapapun besar impian itu.