Sepeda Ontel
Pagi itu suasana begitu dingin , embun yang halus
menempel didedaunan , sarang laba – labapun tampak begitu jelas
jaring-jaringnya karena embun yang menempel disarangnya, burung – burung mulai
berkicau layaknya seperti paduan suara, matahari perlahan mulai menampakan
sinarnya dengan gagah berani tanpa takut .
Seorang pemuda yang bernama Jho
telah bersiap diri dengan sepeda ontelnya untuk bergegas berangkat sekolah,
tidak lupa Jho menghampiri tiga sahabat nya Resti, Natan, dan Anto. Seperti
biasa mereka berangkat bersama – sama pergi kesekolah dengan naik sepeda ontel
yang sudah tua. Jho adalah anak laki-laki tunggal didalam keluarganya. Waktu Jho
kelas satu dan dua, Jho masih diantar oleh orangtuanya kesekolah dengan naik
motor tua dengan suara mesin yang keras dan mengeluarkan asap dari kenalpot
yang banyak. Keluarga
Jho adalah keluarga yang pas-passan dalam hal ekonomi. Setelah kelas tiga SD
Jho disuruh oleh orang tuanya berangkat kesekolah dengan naik sepeda
sendiri ,dengan sepeda otel tua. Jarak
antara rumahnya lumayan jauh , jarak yang harus ditempuh sepuluh kilo meter dari
rumah menuju sekolah, tapi Jho tidak pernah mengeluh,meskipun banyak diantara
teman-teman sekolahnya yang diantar ketika berangkat sekolah,tapi hal itu tidak
menyurutkan semangatnya untuk sekolah demi menimba ilmu. Sekarang Jho duduk
dibangku kelas dua SMP.
Suatu ketika Jho berangkat kesekolah sendiri karena
ketiga sahabat nya diantar oleh orangtuanya. Dalam perjalanan
Jho hanya merenung memikirkan masa depannya, Jho mempunyai cita-cita untuk
menjadi seorang manajemen yang handal yang bekerja diperusahaan ternama dan
terbesar.
Dalam perjalanan nya menuju sekolah
tiba-tiba sepeda tua Jho rusak, Jho segera turun dari sepeda dan membenarkannya.
Jho memeriksa sepedanya apa yang menyebabkan sepedanya tidak bisa digerakkan,
dengan rasa kawatir karena jam sudah hampir menunjukan pukul 07:00 WIB, tapi untungnya jarak Jho dengan sekolahnya
sudah tidak terlalu jauh, dengan segera Jho meriksa bagian demi bagian sepedanya
mulai dari roda depan, roda belakang, rem depan rem belakang dan rantai
sepedanya waktu terus berputar akhirnya Jho tau apa yang menjadi masalah
sepedanya tidak mau bergerak, ternyata rantai antara sebegai penggerak roda
belakang lepas dari gir nya Jho dengan cekatan membenarkannya, dengan tergesa –
gesa akhirnya sepeda pun selesai dibenarkan dan Jho segera mengayuh sepedanya
dengan cepat menuju sekolah .
Setelah sesampainya disekolah
Jho segera memarkirnya dibarisan sepeda – sepeda lainnya disekolah. Jho
bergegas menuju kelas, banyak teman-teman Jho yang menyapa Jho dengan ramah. Disekolah Jho terkenal anak yang ramah dan pandai
berbaur dengan teman-temannya disekolah.
Pukul 07:00 WIB bel tanda masuk
sekolah berbunyi bertanda pelajaran segera dimulai semua murid dalam kelas
segera duduk ditempatnya masing-masing dan menyiapkan buku pelajaran. Pelajaran
terus berjalan hingga tiba waktu jam terakhir di jam terakhir tersebut seperti
biasa murid-murid disekolah mengeluarkan meja dan kursi kelapangan karena hari
ini adalah hari sabtu dimana pada jam terakhir dikhususkan sebagai jam
kebersihan kelas, murid-murid dengan semangat membersihkan kelas begitu pun
dengan Jho dengan semangat Jho membersihkan kelasnya.
Setelah beberapa semua kelas sudah
beres rapi dan bersih ,murid-muridpun beristirahat sambil menunggu jam pulang. Tapi pada
waktu itu wali kelas Jho memberi tahukan kepada teman-teman Jho bahwa sudah
boleh pulang kerumah, dengan segera Jho mengambil tas nya dan segera menuju di
parkiran sepeda, tapi banyak teman-teman Jho masih dikelas dan masih bersanda
gurau. Jho pun segera
cepat-cepat pulang karena, dirumah ada pekerjaan yang menanti, dimana Jho harus
memberi makanan hewan peliharaannya. Jho mempunyai banyak itik yang dipeliharanya
dan empat ekor kambing. Waktu itu Jho lupa memberi makan hewan peliharaannya,
sehingga Jho ingin cepat-cepat pulang .
Pada
saat menuntun sepedanya menuju pintu gerbang , dari jauh teriakkan kepala
sekolah yang keras dan lantang memanggil nama Jho. Jho……, kamu mau
kemana?kemari kamu! Kata pak kepala sekolah. Segera Jho mendatangi pak kepala
sekolah .
Mau pulang pak , kata Jho. Siapa yang menyuruhmu pulang, bel
tanda pulang sekolah belum berbunyi kenapa kamu sudah mau pulang.? Kamu ingin
kabur ya.? Tanya pak kepala sekolah .
Enggak pak , tadi kata ibu wali
katanya sudah boleh pulang pak. Jawab Jho.
Tidak usah banyak alasan , saya kan
belum memberi perintah untuk pulang.!! Sekarang juga kamu balikan sepeda mu
ditengah-tengah lapangan , sekarang juga.!!
Tapi pak , kata ibu wali kelas tadi
sudah boleh pulang. Bantah Jho. Tidak usah banyak alasan , sekarang juga balik sepedamu ditengah-tengah
lapangan dan putar rodanya .!!
Segera Jho melakukan apa yang
diperintahkan oleh bapak kepala sekolah . Banyak teman-teman Jho yang melihat
dan menertawakan Jho, dengan menanggung malu Jho hanya tertunduk diam
mendengarkan ejekkan dari teman-temanya.
Sekarang kamu sudah boleh pulang, dan
perlu diingat jika belum ada pengumuman untuk diperbolehkan pulang sekolah,
jangan pulang terlebih dahulu.!
mengerti.? Kata pak kepala sekolah .
Mengerti pak.! Jawab Jho .
Jho
segera pulang menuju rumah . Dalam perjalannya Jho melihat sekelompok murid
sekolah lain, yang tak asing bagi Jho. Segera sekelompok murid dari sekolah itu
menghampiri Jho. Sekelompok anak murid dari sekolah lain itu sering mencari
masalah dengan Jho. Jho pun menghiraukannya. Hey…., banci , berhenti kalok
berani.!! teriak
anak-anak itu, Jho masih menghiraukannya. Tanpa disadari ada sebuah benda yang
menghantam sepedanya, sebuah batu yang dilempar sekelompok anak tadi, Jho pun
dengan sabar membiarkannya. Dari jauh masih terdengar teriakkan dari sekelompok
anak yang mencari masalah dengan Jho. Hey ...,pengecut.!! Dasar banci kau Jho.!! , Jho pun membiarkannya dan mengayuh
sepedanya dengan cepat menuju rumah. Sesampainya dirumah Jho segera mengerjakan
pekerjaannya yang sudah menantinya. Tanpa mengeluh Jho mengerjakan semua
pekerjaan rumah dengan penuh semangat dan selalu membantu kedua orangnya
kesawah setiap sore dan tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang murid,
Jho selalu belajar disetiap ada waktu luang demi mencapai sebuah prestasi dan
cita-cita yang Jho impi-impikan.
***
Sepuluh tahun
sudah berlalu, perjuangan demi perjuangan, kegagalan demi kegagalan, Jho jalani
dengan setia dan pantang menyerah dan tetap semangat. Cita-cita Jho akhirnya tercapai untuk menjadi seorang
manajemen yang handal dan bekerja diperusahaan ternama dan terbesar dengan
segala usaha dan perjuangan yang tanpa menyerah dan tidak putus asa. Akhirnya hidup Jho bahagia dengan
kedua orang tuanya, dan Jho masih menyimpan sepedanya sebagai kenang – kenangan
perjuangannya dalam menempuh suatu impian yang dicita-citakannya dan bahwa
setiap impian akan terwujud jika ada kemauan yang kuat dan berani untuk
mencapainya walaupun banyak kegagalan dan resiko tapi asalkan tidak pernah
menyerah dan tetap semangat semua bisa digapai seberapapun besar impian itu.